Kamis, 08 Mei 2014

CERPEN PERHIMAP V



IMPIAN, USAHA, DAN CINTA
Oleh: Ida Maranatha

Saat terik membakar tubuh gadis remaja yang beranjak dewasa ini. Gadis manis bernama Estereline Veronica, penuh dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Pengumuman kelulusan yang telah berhasil digenggamnya, membuatnya tak merasakan panasnya matahari. Gadis yang kerap dipanggil relin pulang dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan. Sesampainya dirumah ayah dan bundanya menyambutnya penuh dengan cinta.
“Yah, Bun Relin lulus!” teriak Relin sembari berlari menyambut kedua orangtuanya dan memeluknya.
“ Yah, hebat putri kita satu ni!” tutur sang bunda dengan mata berkaca-kaca.
“ Wah bagus dong berarti udah bisa nih ayah nikahin. Ada sahabat ayah yang punya anak laki-laki!” ujar saya ayah senang.
“Apa Reline mau dijodohin? Astaga ayah, ini tahun 2014, Reline masih muda umurnya juga baru 17 tahun. Relin juga mau kuliah dan kerja!” kata Reline dengan penuh rasa terkejut tak membayangkan ayahnya akan menjodohkannya secepat itu.
“ Walah nduk, ya ndak usah muluk-muluk! Toh nantinya cewek juga bakar kerja di dapur, ngurus suami, ama ngurus anakkan! Yah nggak usah kuliah tinggi-tinggi lah!” ujar sang ayah dengan santainya.
“Ayah… Relin tuh bukan pekerja rumah tangga, lagi pula Relin juga mau sekolah tinggi-tinggi. Relin gak mau dipandang sebelah mata dong. Bun, belain Relin dong!” kata Relin yang tengah berdebat dengan sang ayah sambil memohon pertolongan  sang bunda.
“Yah, apa gak sebaiknya relin kuliah dulu. Toh jaman sekarang sudah maju wanita juga harus mandiri jadi gak ngumpet diketiak laki terus kalau nantinya sudah menikah!” bujuk sang Bunda pada Ayah.
“Pokoknya gak ada tapi-tapian. Ayah akan mengatur pertemuan dengan sahabat ayah, paham?” bentak sang Ayah.
Relin pun berlari kekamarnya dan membanting pintu. Air mata mengalir dengan derasnya membasahi kedua pipinya. Relin bergerak memeriksa uang tabungannya yang bernilai lumayan 8 juta. Relin yang bertempat tinggal di Balikpapan ini akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah. Ia keluar melihat ayah dan bundanya tak berada dirumah. Ia secepat mungkin mengepas barang-barangnya dalam kopernya. Ia memutuskan untuk membuktikan pada ayahnya bahwa wanita juga butuh pendidikan yang tinggi tidak hanya laki-laki.
Relin pun memutuskan naik angkot menuju terminal batu ampar. Ia memeriksa sisa uang tunai yang ada didompetnya. Dan hanya tersisa 500 ribu, relin yakin dan percaya diri dia bisa bertahan dengan uang yang dimilikinya, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tak terasa macet yang memperlambat lajunya bus yang mengantarnya ke samarinda membuat perjalan terhambat setengah jam. Penat rasanya badan walau angin malam serasa memberikan kesegaran yang tak lagi dapat dirasakannya. Ia bingung kemana harus menginap malam ini saudara , teman, ataupun kerabat tak ada satu pun disamarinda. Ia kembali menaiki angkot hijau tak tahu mau kemana.
“Pak, daerah dekat kampus keguruan UNMUL yang banyak kos-kosan wanita disekitar sini dimana pak?” Tanya relin dengan wajah penuh kebingungan.
“Wah, kalo kosan mah banyak non maunya dimana?” Tanya supir kembali.
“Saya tak tahu pak! Saya orang baru disini!”jawab Relin masih dengan wajah yang tambah bingung.
“Nak, ibu punya kos-kosan dekat sini dibanggeris, dekat dengan kampus UNMUL. Kalau kamu mau ikut ibu! Potong seorang ibu salah satu penumpang angkot.
Eksperisi senang yang tak dapat ditutupi terlihat jelas diwajah relin. Relin sangat bersyukur bertemu ibu tersebut. Kepanikan diwajah relin mulai berkurang. Tak terasa waktu lima belas menit telah berakhir, mereka turun di jalan banggeris. Relin dan si ibu yang baru dikenalnya berjalan menapaki jalan banggeris. Saat mereka berbelok ke dalam gang kecil dan tiba disebuah rumah tak lama kemudian. Relin menghebuskan napas dengan penuh kelegaan, tak sabar rasanya relin ingin segera melepas penat dan letihnya. Ibu kos tersebut menunjukkan kamar yang masih kosong. Relin memasuki kamar tersebut, walau tak sebesar kamar dirumah ayahnya. Namun, ia sudah selangkah lebih maju untuk mendapatkan mimpinya.  Relin tak bisa memungkiri rasa senangnya, ia tahu cara yang digunakannya salah. Namun, ia tak tahu bagaimana menjelaskan pada ayahnya yang memiliki sifat yang sama keras kepala dengan dirinya. Relin tak mau memikirkan hal itu sekarang, ia tahu kedua orang tuanya pasti bingung mencari-carinya. Relin mengeluarkan barang-barangnya dan merapikannya, lalu pergi kekamar mandi melepas penat dari tubuhnya. Tak lama kemudian Relin tidur untuk melepaskan masalah yang harus dihadapinya.
***
Sinar matahari yang masuk dicelah-celah horden menyilaukan mata Relin. Relin merapikan kamarnya dan keluar sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya kemudian. Relin sadar ia harus bekerja tak mungkin ia bertahan dengan berpegangan pada uang yang hanya sedikit. Melihat kesulitan yang terlihat jelas diwajah anak kosnya membuat ibu kos bertanya.
“Kenapa relin kok kayaknya banyak pikiran?” Tanya ibu kos dengan lembut.
“Ini bu, relin bingung harus cari kerja dimana!” ujar relin bingung.
“Relin mau kuliah apa?” Tanya ibu kos
“FKIP bu, tapi yang PGSD!”jawab relin.
“Kalau relin ngajar anak ibu yang masih SD Lexa, relin mau? Nanti gajinya 350 ribu perbulan seminggu 3 kali. Bagaimana?” Tanya Ibu Kost.
“ Mau ibu. Kapan mulainya?” Tanya relin dengan wajah penuh kegembiraan.
“Kalau mulainya besok, jadi seminggu cuma hari senin rabu dan jumat. Nah, untuk hari selasa, kamis, dan sabtu, Relin kan bisa cari kerja yang lain. Gimana setuju gak?”tanya ibu memberikan ide.
Relin memulai harinya dengan penuh keceriaan. Sambil mengajar les privat relin juga bekerja membantu ibu kost dalam usaha kateringnya. Lumayan ia bisa mendapatkan upah 400 ribu perbulannya. Ia akan buktikan ke ayahnya kalau ia bisa kuliah. Ia harus membuktikan bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi.
Waktu terus berlanjut tak terasa relin berhasil mengumpulkan uang   sebanyak750 ribu. Lumayan untuk membayar biaya kos 300 ribu, sisanya ia bisa menabungnya di bank. Sedangkan untuk masalah makanan ia tak perlu khawatir karena Ibu kos selalu memasakkan lebih masakan catering agar dapat dimakan relin. Relin sangat bersyukur dapat menyelesaikan semua masalahnya. Tak ada lagi yang perlu dipikirkan.
***
Sebulan telah berlalu, relin pun akhirnya mendaftarkan dirinya di bank untuk mendapatkan kartu peserta tes smptn. Relin juga ke gramedia membeli buku untuk belajar tentang psikotes. Relin memilih jurusan IPS dengan membayar 150 ribu. Relin mendaftarkan dirinya di internet dan memilih prioritas pertama PGSD sedangkan yang kedua Manajemen. Relin belajar dan bekerja untuk mempersiapkan dirinya pada saat tes smptn. Relin sadar hanya kemampuan psikotes yang bisa diandalkannya. Pelajaran Matematikan diakui bukan keahliannya.
Hari telah tiba tes smptn pun akan dimulai. Relin mendapat tempat ujian di GOR 27 September Gunung Kelua. Relin mengerjakan semua tes psikotesnya. Namun sayangnya, ia benar-benar tidak dapat mengerjakan Matematika. Ia hanya dapat pasrah, namun pelajaran IPS, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia mampu di kerjakannya. Ia pulang dengan penuh doa dan harapan dapat lulus smptn di UNMUL.
Tak terasa waktu terus bergulir, hingga pengumuman keluar secara online. Relin tak sabar ingin melihatnya dengan jantung berdegub kencang dan tangan yang bergetar ia melihat bahwa dirinya dinyatakan lulus smptn FKIP PGSD. Bulir-bulir air mata turun membasahi pipinya yang indah. Ia telah selangkah lebih maju sekarang, tekad dihatinya pun bertambah kuat. Relin bekerja dan mengikuti acara perkenalan untuk anak MABA (Mahasiswa Baru) di Gunung kelua. Pakaian putih hitam pun telah melekat ditubuhnya dengan penuh kebanggan ia mengikuti itu semua.
***
Sebulan Kemudian
September telah tiba, kuliah pun mulai aktif berjalan. Relin bercermin tak henti-hentinya ingin rasanya ia berteriak “AKU MAHASISWA SEKARANG”. Tapi tentunya itu tak bisa dilakukannya. Ia hanya bisa menatap pantulan wajahnya dengan senyum penuh kebanggaan, kepuasan, dan kegembiraan semuanya tak dapat dilukiskan dalam bingkaian kata-kata. Relin keluar dari kamar dan pamit pada ibu kos.
Ia melihat kampusnya dengan pandangan senang. Tapi, ia harus segera mendapatkan teman disini. Tidak…. bukan teman tapi sahabat angguknya mantap. Namun ia sangat mengingat kata-kata ibunya saat mereka pernah menonton drama korea tentang anak kuliah. Dunia kuliah jauh berbeda dari masa SMA, dia harus pintar dalam berteman. Mencari teman sesulit mencari jarum ditumpukkan jerami. Jika ia salah dalam memilih teman, maka impiannya akan terganggu. Ia memasuki kelasnya, memilih bangku yang paling belakang. Urusan belajar memang bangku paling belakang yang nyaman dari SD sampai Kuliah tidak ada bedanya.
***
Waktu terus berjalan, tanpa terasa ia telah menemukan seorang sahabat bernama Michele yang selalu menemaninya sejak awal semester hingga akhir. Gadis yang berasal dari kota yang berbeda dengannya adalah gadis yang dapat memahami pemikiran Relin. Michele sangat mendukung impiannya. Masih diingatnya kata-kata Michele awal semester.
“Astaga, serius loh mau dijodohin. Ya ampun, mereka khawatir kalo kau gak laku ya. Kayak kau gak bisa cari sendiri ja. Lagipula kau kan masih muda!” kata Michele dengan wajah terkejut saat ia menceritakan masalahnya. 
“Kalo dibilang kolot nggak kok, ayah ku gaul tuh, kalo dibilang pelit ato sekek dia royal kok. Tapi kalau urusan pasangan gak berlaku deh peribahasa jodoh tak kan lari kemana. Dia masih berpikiran kalau cewek tuh yah gak usah muluk-muluk sekolahnya”balas relin.
Saat mereka tengah asyik cerita, seorang pria mendatanginya dan meminta nomor handphone. Rilen merasa tidak ingin memberikan nomornya. Namun saat pria itu meminta nomornya lagi di facebook ia tetap tak memberikan. Tiba-tiba sms dari pria itu ada di HPnya. Relin kesal bukan main, ia membaca sms pria itu.
“Hai aku, Dixon!Bisakah kita berkenalan?” Tanya pria itu sesopan mungkin. Namun kesopanan tetap tak mampu meluluhkan hati Relin.
“Tau dari mana nomorku?” Balas relin dengan bertanya. Namun Dixon takut memberitahukannya. Ia sering mendengar, relin memarahi teman-temannya yang memberikan nomornya pada pria lain. Akhirnya Dixon membalas.
“Maaf untuk itu aku gak bisa kasih tau. Aku tau kau pasti memarahinya!”balas Dixon. Dan itulah sms terakhir malam itu.
***   
Keesokan harinya, relin pergi kuliah dengan wajab penuh kesal. Ia menceritakan masalahnya pada Michele. Michele pun memberitahu bahwa dialah yang telah memberikan nomor Rilen. Bukan main kesalnya Rilen. Namun Michele membujuknya dan akhirnya berhasil. Tiba-tiba selembaran dari tas Michele jatuh yang bertuliskan pesan dari tantenya, kalau ada yang mau mengecat rumah tantenya akan digaji. Rilen menanyakan pekerjaan itu pada Michele. Michele ragu memberikannya.
“Rilen, pekerjaan ini tuh pekerjaan cowok, cewek tuh pekerjaannya bukan ini ok! Aku tahu kau butuh pekerjaan tapi bukan ini!” kata Michele menjelaskan.
“Hello, kau lama-lama mirip ayahku yah. Cewek tuh gak gini gak gitu. Terus apa dong gunanya perjuangan kartini. Sekarang tuh kernek Jakarta ada tuh yang cewek! Semua pekerjaan tuh cewek bisa ok!” balas Rilen.
“Ok deh, tapi rumah tanteku tuh besar. Emang sih semuanya udah disiapin kau cuma ngecat doang. Tapi yakin loe?” Tanya Michele lagi.
“Percaya deh rumah tantemua akan sebagus istana Barbie kalau aku yang ngecat!” jawab Rilen meyakinkan.
Selesai mengajar anak ibu kostnya. Rilen pamit untuk pergi bekerja mengecat. Ia berhenti didepan sebuah rumah yang besar. Ia memantapkan kakinya memasuki rumah tersebut. Seorang ibu tua yang ternyata adalah pekerja rumah tangga menyambutnya dan menanyakan maksud kedatangannya. Rilen menjawab untuk mengecat. Pembantu tersebut mengantarkannya menemui pemilik rumah tersebut. Pemilik rumah menujukkan bagian-bagian yang harus dicat. Saat Rilen tengah mengecat, tiba-tiba seorang pria datang kerumah tersebut dengan wajah kesal dan membantunya mengecat. Melihat itu, Rilen pun bertanya.
“Eh, ngapain loh nyelonong masuk? Sana aku lagi kerja!”Usir Rilen dengan kesal. Mendengar suara Rilen yang kesal, pemilik rumah pun mendatanginya dan melihat Dixon berada disitu.
“Loh Dixon ngapain? Orang lagi kerja kok diganggu sih!” Tanya pemilik rumah yang tak lain adalah ibunya Dixon.
“Ini nah ma, masa pacarnya Dixon ngerjain pekerjaan cowok sih. Mama tahu cewek yang sering Dixon certain Rilen!” kata Dixon dengan penuh kekesalan.
“Ih siapa yang jadi pacar mu, maaf tante kami bukan teman apalgi pacar!” kata Rilen menjelaskan pada ibunya Dixon.
“Ya sudah, nanti juga jadi pacar. Dixon bantuin ya, tapi kamu gak mama gaji loh cumah Rilen aja!” kata mamanya.
“Ok deh ma! Ayo sayang kerja yang rajin jangan malas!” kata Dixon bukan main senangnya. Sedangkan hal yang berbeda dirasakan Rilen. Rilen menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia menginap dirumah itu karena besok adalah hari raya nyepi. Ia menyelesaikan pekerjaannya dan tidur dikamar yang sama dengan pekerja rumah tangga tersebut. Pembicaraan penting terjadi antara Dixon dan mamanya. Mamanya sangat setuju Dixon pacaran dengan Rilen.
***
Matahari memunculkan sinarnya menandakan hari telah pagi. Tiba-tiba seekor anjing dengan jenis Golden Rotweiler membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
“Wake up, sleeping Beauty! Sarapan sudah disediakan!”kata Dixon dengan nada sayang.
Rilen merapikan pakaiannya dan pergi meninggalkan Dixon. Rilen menemui tantenya untuk pamit. Dan upahnya bisa dititipkan pada Michele. Dixon menatapnya dengan pandangan penuh sedih. Dixon akan terus berusaha. Rilen sampai dikosannya dan membantu ibu kosnya mengantarkan kateringnya. Besok adalah hari ulang tahunnya 3 Juni 1993 ia berharap bisa bertemu dengan ayah bundanya menunjukkan bahwa ia berhasil kuliah dengan biaya sendiri. Malam itu, Relin terkejut Dixon datang kerumahnya membawa blackforest dan menyanyikan selamat ulang tahun. Lebih terkejut lagi saat dua sosok yang sangat dikenalnya tiba-tiba muncul dari punggung Dixon. Rilen berlari memeluk bundanya.
“Rilen berhasil bun, sebentar lagi naman Rilen akan bertambah gelar S.Pd dibelakangnya!” kata Rilen dengan suara bergetar penuh air mata.
“Rilen maafin ayahmu ini ya?” kata sang ayah.
“Rilen sudah lama memaafkannya yah!” jawab Rilen. Rilen melihat Dixon yang tengah menatapnya sayang.
“Rilen, kita ngomong berdua dulu ya!” pinta Dixon yang dijawab dengan anggukkan kepala Rilen.
“Rilen, kau mau tahu siapa pria yang mau dijodohkan denganmu?” tanya Dixon.
“Thanks sebelumnya udah kasih hadiah dengan membawakan kedua orang tua ku ke samarinda. Darimana kau tau aku mau dijodohkan?” tanya rilen.
“Akulah pria itu, aku juga tak mau dijodohkan sebelumnya. Aku ingin mendapatkan gadis yang berpikiran modern. Aku sangat menyukai perjuanganmu. Karena itu aku jatuh cinta padamu sekarang!” jawab Dixon.
“Tapi Dixon aku gak mau diperlakukan wanita hanya perlu mengurus suami, anak, dan dapur. Kalau kau mau wanita seperti itu. Menikahlah dengan pekerja rumah tangga!” kata Rilen menjelaskan.
“Tenanglah, aku juga tak suka wanita yang hanya tahu angguk-angguk geleng-geleng, wanita yang tak dapat diajak berdiskusi! Jadi apakah mulai sekarang kita pacaran?” Tanya Dixon.
“Ya!” jawab Rilen dengan penuh nada yakin. Tanpa sadar suara berbunyi suit-suit ada dari kostannya dan terlihatlah ibu kost, anaknya Lexa, bunda, ayah, dan mamanya Dixon menonton Rilen dan Dixon layaknya layar tancap. Rilen yakin semua wanita berhak mendapatkan apapun yang diinginkannya. Tergantung usahanya, dan tak ada pekerjaan yang khusus pria atau wanita. Jika wanita bisa melakukannya maka lakukanlah. Oke, Just do it girl!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar